Alhamdulillah Allah masih bisa memberikan kesempatan kepada saya untuk kembali merangkai cerita-cerita indah hidup ini yang akan saya sharing bersama saudara/iku sekalian dalam tulisan singkat nan indah. Pada bagian pertama telah saya ceritakan awal saya bermimpi sampai jatuh bangun mengejar impian saya untuk bisa menjadi manusia yang berguna. Dari bagaimana saya mengambil keputusan untuk memulai langkah hidup demi mengejar impian dan sampai menjadikan indah sebuah keputusan yang awalnya tidaklah kita ketahui alur kisah perjalanannya. Berikut bagian kedua dari kisah perjalanan meraih mimpi.
“Dakwah ini akan semakin besar dan disaat dakwah telah membesar maka dakwah akan membutuhkan orang-orang ahli di dalamnya yang akan mengisi pos-pos untuk melayani umat”. Kata-kata ini yang kembali menjadi motivasi saya untuk menjadi manusia yang berguna untuk umat, bangsa dan negara. Sehingga saya memulai kembali untuk menata impian-impian saya yang sejak SMA telah saya buat.
Selepas lulus dari kampus perjuangan Politeknik Negeri Jakarta, saya harus meniti karir saya di dunia kerja agar saya mampu membahagiakan orang tua saya dan juga untuk menjadi bekal saya melanjutkan studi ke S1. Karena seperti cerita saya pada bagian pertama bahwa studi saya selanjutnya harus lah dengan biaya dari kantong saya sendiri karena tidak ingin saya kembali merepotkan keluarga demi mengejar mimpi-mimpi saya ini. Selepas lulus dari Kampus Politeknik Negeri Jakarta (yang disingkat PNJ) dan setelah mendapatkan pekerjaan yang layak. Barulah saya mulai berkutat dengan rencana hidup saya, saya mulai berkeliling dari kampus satu kekampus lainnya, dari brosur kampus yang satu ke brosur kampus lainnya guna mencari kampus yang tepat sebagai tempat singgah saya untuk melanjutkan mimpi-mimpi guna mendapatkan gelar kesarjanaan. Akhirnya, berlabuh lah saya di kampus ISTN setelah memperhitungkan segala sesuatunya, baik grade kampus dibandingkan kampus lainnya, biaya uang kuliah dan jam kuliah yang akan dijalani.Alhamdulillah, seiring sejalan saya dengan mudah menjalani perkuliahan dengan dibarengi aktifitas bekerja saya. Akhirnya 1,5 tahun saya dapat menyelesaikan program Ekstensi di ISTN.
Disaat hampir berakhirnya masa perkuliahan saya di ISTN, saya harus kembali memikirkan kelanjutan hidup ini,seperti dicerita sebelumnya tentang mimpi saya ini bahwa saya harus melanjutkan perjalanan impian saya untuk meraih gelar Master. Sebelum lulus dari ISTN, saya mulai mencari Universitas yang akan saya jadikan tempat singgah berikutnya. Berbagai website kampus telah saya jajaki, baik dari Universitas negeri maupun universitas swasta di Indonesia. Saya juga melakukan diskusi untuk mendapatkan masukkan dengan beberapa teman saya untuk menjadi pertimbangan saya dalam memutuskan. Ke kampus mana tempat singgah saya selanjutnya guna meraih gelar master.
Waktu terus berjalan, hari demi hari terus terlewati. Pikiran ini akhirnya mulai menemukan pilihan. 2 pilihan yang harus dipilih salah satunya untuk diprioritaskan terlebih dahulu. Pilihan pertama ialah menikah dan yang kedua melanjutkan studi S2. Kuliah S1 belumlah selesai, jangankan bicara tentang Ijazah, sidang skripsi saja belum saya lakukan dan ternyata Allah berkehendak lain dalam perjalanan takdir hidup saya. Salah seorang ustadz yang belum saya kenal pada awalnya mengirimkan saya sms untuk mengajak bertemu disuatu hari. Penasaran terhadap yang mengirimkan sms, akhirnya saya cari tau siapa beliau. dan ternyata dengan mudahnya saya temukan karena beliau termasuk salah seorang ustadz yang menjadi Calon Anggota DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 2009 kemarin. Pertemuan bersejarah dengan seorang ustadz akhirnya berlangsung, dan ternyata pertemuan tersebut dalam rangka membahas rencana hidup saya yang pertama pasca lulus dari ISTN yaitu proses menuju Walimatul ursy dengan seorang akhwat yang sangatlah sedikit saya kenal tentangnya.
Waktu terus berjalan dengan cepat, didalam keterbatasan dalam diri ini, saya diminta untuk mampu memutuskan dengan bijak tawaran untuk berproses dengan seorang wanita shalehah tsb. Waktu terus berjalan, didalam keterbatasan hidup. saya harus menjalankan skenario indah dari Allah ini. Meskipun pada saat itu saya tidak memiliki sedikitpun uang didalam tabungan saya dan hanya berbekal persiapan jiwa dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap ujian yang ia berikan karena saya sangat yakin bahwa Allah akan selalu bersama hambaNya yang sabar. Akhirnya dalam keheningan doa-doa Istikharah, di kesunyian doa-doa tahajud, didalam ketenangan doa-doa dhuha dan dalam kebahagiaan doa-doa shalat wajib yang saya lakukan. Alhamdulillah, Allah memberikan pertolonganNya, karena Allah telah memberikan kata kunci dalam KitabNya bagi hamba-hambaNya yang mentadaburinya, Allah mengatakan bahwa “Hai orang-orang yang beriman, Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. AL-Baqarah: 153). Didalam shalat selalu saya memohon pertolonganNya dan akhirnya keuangan yang ditakut-takuti sebagai hambatan menuju Ibadah yang suci itu akhirnya terselesaikan dengan Allah memberikan rezeki melalui pintu-pintu yang tidak pernah kita duga-duga. Sehingga dalam waktu kurang lebih dari 3 bulan saya mampu menjalankan rencana hidup saya yang pertama pasca lulus S1 yaitu melangsungkan pernikahan.
Pasca menikah, apakah saya lupa dengan rencana hidup saya untuk melanjutkan studi? tentu tidak. Ternyata Allah telah mempertemukan saya dengan seorang wanita yang memiliki rencana hidup yang sama. yaitu sama-sama memiliki impian yang besar terhadap studi kita masing-masing. Sehingga kita berdua memiliki sebuah target di tahun ini yaitu berangkat kuliah ke luar negeri. Target inilah yang akhirnya menjadi motivasi kami untuk berangkat ke luar negeri. Darimana akhirnya saya memiliki keinginan untuk kuliah diluar negeri?
Setelah menikah kami tinggal di Komplek perumahan para peneliti di Negeri ini yaitu di Komplek BATAN Indah, Tangerang Selatan. Sebuah perumahan yang lain dari perumahan lainnya di kawasan Jabotabek. Dimana masyarakatnya kebanyakan seorang Doktor lulusan luar negeri. Banyak orang-orang hebat negeri ini ada diperumahan ini, lulusan dari berbagai negara diantaranya Jepang, Korea, Inggris, Amerika, dll. Setiap silaturahmi yang saya lakukan kerumah-rumah para ilmuwan Indonesia tsb. Didapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Seperti saat saya dan istri bersilaturahim kerumah salah seorang sekretris pribadi Menteri Riset dan Teknologi, seorang Doktor lulusan Belanda dan Jepang. Beliau menyampaikan bahwa ”mumpung masih pada muda, jangan lupa untuk terus belajar, banyak beasiswa untuk belajar ke luar negeri kalau mau”. Semua inilah yang menjadi motivasi saya untuk bisa berangkat keluar negeri dan sukses diluar negeri seperti mereka. Berbekal keinginan melanjutkan S2 sehingga saya memutar arah perjalanan impian saya untuk bisa melanjutkan S2 keluar negeri.
Pada awalnya istri saya memang memiliki rencana untuk melanjutkan studi S2-nya ke Malaysia karena Ia telah mendapatkan beasiswa dari salah seorang dosen di Perguruan tinggi negeri di Malaysia yang berasal dari Indonesia. Akan tetapi seiring waktu akhirnya perjalanan ke luar negerinya tertunda. Bukan karena saya tidak mengizinkan atau hal lainnya tapi menurut saya lagi-lagi Allah memiliki skenario indah untuknya. Ternyata sistem pemberian beasiswanya berubah, yang awalnya diberikan dari awal masuk sampai selesai dan ternyata semester awal harus dengan biaya sendiri terlebih dahulu dan semester selanjutnya pihak kampus akan memberikan beasiswa tsb. Itupun apabila nilai semesternya melebihi syarat yang ditentukan. Kemudian saya mencoba mencari-cari beasiswa luar negeri lainnya agar target tahun ini bisa kami laksanakan. Akhirnya tanpa disengaja saya mendapatkan informasi dari teman SMA saya yang sedang studi di luar negeri, Ia adalah Eti Nuswandari. Ternyata lagi-lagi skenario Allah sangatlah indah, Pada saat yang sama ternyata di kampusnya sedang membuka penerimaan beasiswa untuk International Student. Kemudia kami persiapkan syarat-syarat untuk pengajuan beasiswa tersebut. Saya jadi ingat sebuah pepatah mengatakan “sambil Menyelam minum air”, dan pada saat itu juga informasi beasiswa berdatangan ke kami dan kami mendapatkan 3 informasi beasiswa sekaligus. 2 beasiswa dari Kampus di Taiwan (NCYU dan NTUST) dan 1 beasiswa dari pemerintah Korea Selatan (KGSP). Informasi Beasiswa Pemerintah Korea tersebut kami dapatkan dari salah seorang kandidat Doktor di Korea.
Bagaimana tantangan dan ujian dalam mempersiapkan syarat-syarat pengajuan beasiswa kami lewati? dan bagaimana kami bisa berangkat ke negeri formosa ini?
Ditunggu kelanjutannya
Wassalam
Ami Amrullah
Bermimpilah dan Berencanalah
Chiayi City, Taiwan
25 September 2010 2.12 PM

Comments on: "Perjalanan menuju Impian (Bagian 2)" (5)
ditunggu segera kelanjutannya, ingin tahu bagian cerita, dimana mimpi itu memang layak diperjuangkan.
ya semoga masih diberikan kesempatan untuk berbagi cerita
tulisan yg mengandung hikmah. ditunggu cerita kelanjutannya.
(salam kenal, secara tak sengaja saya menemukan wordpres ini ketika sedang browsing, syukron)
Salam kenal kembali
MANTAAP ustadz Ami. Subhanallah siapa yang punya tekad dan impian yang kuat disertai do’a pertolongan Alloh insya-Alloh dikabulkan Alloh, apalagi dgn niat dan Cita-cita yang Mulia. SUXES SLALU….