BERMIMPI DAN BERENCANALAH

Archive for Februari, 2011

ORANG-ORANG YANG BERSAMA NABI MUHAMMAD SAW

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal, merupakan saat-saat yang dinanti-nantikan umat Islam untuk dapat kembali meneladani sikap dan perjuangan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan Islam ke seluruh muka bumi. Rasulullah SAW yang telah dipastikan oleh Allah SWT sebagai manusia yang memiliki suri teladan yang baik untuk umat manusia, sepantasnya menjadi panutan pula untuk umat Islam yang telah berikrar Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, bahwa Nabi Muhammad ialah Rasulullah.

Sejarah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berawal sejak zaman ke khalifahan Fatimi (keturunan Fatimah Az-Zahrah, putri Nabi Muhammad SAW). Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang pada waktu itu, mengusulkan kepada khalifah untuk mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dikarenakan kondisi umat muslim dikala itu, sedang berada pada kondisi lemah semangat untuk berjuang melawan tentara Salibis. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh panglima tentara Islam, Shalahuddin Al-Ayyubi, bertujuan untuk mengingatkan kembali perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan Dienul Islam dan mengembalikan semangat juang kaum muslimin dalam perjuangannya membebaskan kota Yerussalem (saat ini dikenal dengan Negara Palestina) dan merebut Masjidil Aqsha (salah satu masjid yang di sebutkan didalam Al-qur’an, ketika terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW) dari cengkeraman tentara Salibis ketika itu. Hasil dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ialah semangat jihad umat muslim kembali menggelora, sehingga kota Yerussalem dan Masjidil Aqsha dapat diraih oleh umat muslim.

Dikalangan masyarakat Indonesia, maulid Nabi Muhammad SAW kadang masih dipertentangkan. Ada kelompok yang mengatakan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan ritual yang harus dilaksanakan, dan ada kelompok lain yang menganggap maulid Nabi Muhammad SAW ialah ritual yang mengada-ada atau bid’ah, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Terlepas dari kedua pendapat tersebut, yang lebih penting dari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah sekedar sunnah ataupun bid’ah. Pada intinya, bagaimana momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat dimanfaatkan seperti yang dilakukan oleh panglima Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai lompatan untuk kembali menyemangati kaum muslimin agar dapat meneladani perjuangan Rasulullah SAW dan mencontoh sikap dan perilaku Rasulullah SAW dalam menjalankan serta memperjuangkan Islam.

Oleh karena itu, ritual peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, janganlah hanya sebagai ritual atau budaya saja. Ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu bagaimana kita bisa menjadi bagian yang Allah SWT sampaikan didalam surat Al-Fath ayat 29, terkait contoh orang-orang yang bersama Rasulullah SAW. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Ciri-ciri Umat Nabi Muhammad SAW

Pertama, Asyiddau ‘alal kuffaar (keras atau tegas terhadap orang-orang kafir)

Ciri pertama orang-orang yang bersama Nabi Muhammad SAW ialah bersikap keras atau tegas terhadap orang-orang kafir. Sebelum kita berbicara tentang orang-orang kafir, di dalam pandangan Islam orang kafir ada dua macam. Pertama, Kafir Harbi, yaitu orang-orang kafir yang memusuhi atau memerangi ummat Islam. Kedua, Kafir Zimmi, yaitu Zimmi berasal dari kata Zimmah yang bermakna aman atau janji, sehingga Kafir Zimmi merupakan orang-orang kafir yang terikat perjanjian damai dan mendapatkan keamanan dari ummat Islam. Dengan demikian, haram hukumnya bagi muslimin untuk mengganggu kafir zimmi, menyakiti, menzalimi, atau mengurangi hak-haknya.

Bersikap keras dan tegas disini ditujukan kepada orang-orang kafir yang memusuhi dan memerangi Ummat Islam. Bukan hanya keras dalam bentuk fisik akan tetapi keras dan tegas pula terhadap ajaran, budaya dan pemikiran mereka. Pada saat ini, kadang ummat Islam kurang memiliki kesadaran akan hal ini. Padahal jikalau disadari, tidak sedikit ummat Islam yang telah mengikuti ajaran, budaya dan pemikiran mereka.

Kita dapat menyaksikan negara tercinta kita Indonesia, yang dikenal sebagai negara dengan berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tapi apa yang bisa dibanggakan dari umat muslim Indonesia? dahulu jumlah umat Islam Indonesia sekitar 90-an % tapi kini jumlah itu semakin menurun. Seperti hasil penelitian lembaga riset asal Amerika Serikat, Pew Forum on Religion & Public Life, yang dirilis pada hari Kamis, 27 Januari 2011. Menurut survei tersebut, “Indonesia dalam 20 tahun berikut masih memiliki banyak penduduk beragama Islam dari negara-negara lain. Namun, pada tahun 2030, status Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak didunia bisa tergeser oleh Pakistan.”. Sungguh ironi mendengarnya, dan meskipun jumlah penduduk muslim besar, hal itu dinilai besar secara kuantitas, tapi bagaimana secara kualitas? berapa persen umat Islam Indonesia yang memiliki kualitas Islamnya baik?.

Kadang kita tidak sadar, penurunan jumlah ummat Islam di negeri kita bukan karena ummat Islam diperangi secara fisik oleh mereka. Akan tetapi, tanpa disadari bahwa ummat Islam saat ini sedang diserang dengan ghazwul fikri (perang pemikiran). Tidak sedikit ummat Islam yang hidup mengikuti budaya barat, sex bebas, menggunakan narkoba, berpacaran, meminum-minuman keras, dan lain sebagainya. Ada contoh lain, sebagian umat Islam, apakah itu akademisi atau pelaku kebijakan publik, merasa lebih bangga ketika merujuk pada referensi orang kafir. Padahal, itu justru menjerumuskan ummat Islam ke dalam jurang kehancuran. Fakta kehancuran ekonomi ummat Islam akibat mengadopsi sistem ekonomi ribawi milik kaum kapitalis sudah terjadi. Kekisruhan sosial akibat penerapan sistem politik sekuler yang memisahkan agama dan negara juga telah melahirkan pemimpin-pemimpin tak bermoral yang tak pantas menjadi pemimpin yang diikuti. Mereka meneriakkan pemisahan politik dan agama, padahal politik adalah bagian dari agama Islam karena Islam adalah agama yang menyeluruh (syumuliatul Islam).

Keadaan seperti itulah yang membuat orang-orang kafir bahagia, Ummat Islam sudah jauh dari agamanya. Sebagaimana Allah SWT sampaikan di dalam Al-Qur’an, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS.Al-Baqarah: 120)

Kedua, Ruhamaau Bainahum (berkasih sayang sesama mereka (muslim))

Ciri kedua, orang-orang yang bersama Rasulullah SAW ialah mereka berkasih sayang terhadap ummat Islam lainnya. Siapapun yang berikrar Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah, mereka ialah saudara kita, karena Islam tidak mengenal teritorial, suku, budaya, bahasa, golongan, madzhab dan bangsa. Selama mereka bersyahadat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka mereka adalah saudara kita. Sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam surat Al-Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Perumpamaan seorang muslim satu dengan yang lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan yang saling menguatkan. Oleh karena itu, sesama muslim wajib saling asah, asih, asuh. Saling menyayangi, mencintai, melindungi, menutupi aib, tidak menghina, mencemooh, memfitnah, apalagi menumpahkan darah sesamanya. Rasulullah saw bersabda, ”Janganlah kalian saling mendengki, membenci, memutus persaudaraan. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Shahih Bukhari, Bab Haramnya Hasud, Jilid 12, Hal. 415).

Umat Islam di manapun berada berhajat untuk bersatu dan saling mendukung. Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengingatkan kita, ”Jangan sampai berbedaan madzhab atau kelompok menjadikan umat Islam terpecah belah menjadi umat sunni atau umat syi’i, misalkan. Bukankah Allah swt. memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah?” Beliau menambahkan, “Kalau kita sekarang sebagai umat Islam terus membangun komunikasi dengan umat lain, mengapa kita tidak membangun komunikasi di antara internal umat Islam?”. Saling berkasih sayang dan menjaga persatuan di antara elemen umat Islam tidaklah menjadi slogan semata. Itu harus diperjuangkan agar menjadi wujud dalam kehidupan umat Islam.

Ketiga, Rukka’aa Sujjadaa (mereka rukuk dan sujud)

Ummat Rasulullah SAW, selalu melaksanakan shalat dan tidak pernah meninggalkannya. Mereka selalu bertakwa kepada Allah SWT dan mencontoh Rasulullah SAW. Orang-orang yang bersama Nabi Muhammad SAW, selalu khusyu’ dalam melaksanakan shalat dan merekapun selalu menambahnya dengan shalat-shalat sunnah yang Rasulullah anjurkan.

Seluruh anggota badan mereka ikut serta shalat: kalbu, pikiran, tangan, kaki, mata dan telinga serta anggota badan yang lain bersujud dihadapan Allah swt. Dengan demikian ia akan terjaga dari kemaksiatan dan kemungkaran di luar shalat. Bagaimana mungkin kalbu akan mendengki terhadap sesama, padahal sebelumnya bersujud. Bagaimana mungkin pikiran terbersit hal yang kotor, padahal sebelumnya bersujud. Bagaimana mungkin tangan mengambil hak orang lain atau melakukan korupsi, padahal sebelumnya bersujud. Kaki, mata, telinga, dan anggota badan yang lain juga demikian.

Shalat yang benar juga akan tercermin dari perilaku sosial pelakunya, yaitu terlihat dari sejauh mana kepedulian terhadap sesama dan memberikan manfaat untuk orang lain. Itulah rahasia firman Allah SWT, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Ankabut: 45)

Keempat, Fadhlam Minallahi wa Ridhwaana (Mencari karunia dan keridhaan Allah)

Orientasi hidup umat Nabi Muhammad SAW adalah untuk Allah SWT semata. Ia paham betul fungsi ia dihidupkan di muka bumi, adalah untuk pengabdian total kepada Tuhan semesta alam. Ia siap diperintah dengan aturan Allah SWT. Ia rela meninggalkan yang dilarang karena Allah SWT semata. Bahkan, sikap ia yang keras terhadap orang kafir, atau berkasih sayang terhadap sesama muslim, atau tunduk patuh sujud, adalah karena dilandasi mencari keridhaan Allah SWT.

Dalam arti kata, kita membenci seseorang karena Allah SWT. Kita berkasih sayang dengan sesama muslim karena dipadukan cinta kepada Allah SWT. Sebab, boleh jadi kendala persaudaraan Islam adalah karena adanya kepentingan dunia, keinginan jabatan atau karena sekedar beda kelompok. Maka, yang bisa menyatukan langkah dan persatuan umat Islam adalah tujuan untuk menggapai ridho Allah SWT.

Dalam sebuah hadits yang diajarkan Rasulullah SAW dan sering kita lantunkan: ”Saya ridha Allah sebagai Tuhan-ku, Islam sebagai agama-ku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-ku.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi. Hadits shahih).

Itulah ciri-ciri ummat Nabi Muhammad SAW. Peringatan maulid yang dilaksanakan oleh ummat Islam di seluruh penjuru dunia mestinya tidaklah sekadar tradisi tahunan tanpa ruh dan jiwa. Namun momentum maulid bisa dijadikan sebagai tonggak untuk meneladani Rasulullah SAW dalam segala sisi kehidupan. Juga semangat peningkatan ummat Islam untuk memiliki dan menjaga karakter ummat Muhammad agar kita di yaumil qiyamah kelak diakui Beliau sebagai ummatnya.

Wallahu a’alam bish-showab

Wassalam,

Ami Amrullah

Mahasiswa Master

National Chiayi University (NCYU)

Disampaikan dalam pengajian mingguan MTYCIT

(Majelis Taklim Yasinan Chiayi Indonesia Taiwan)

Chiayi, 16 Februari 2011

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.