Bismillahirrahmanirrahim,
Hiruk pikuk menyambut hari kemenangan dinegeri mayoritas muslim ini memang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, menjelang hari Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong menyerbu pasar-pasar, mall-mall dan lain sebagainya untuk membeli kebutuhan dalam rangka menyambut hari kemenangan. Tak heran, suasana mudikpun menjadi santapan sehari-hari didalam berita-berita di televisi dan media cetak lainnya. Wajar saja seorang Cendekiawan muslim, Qomaruddin Hidayat, saat diwawancarai didalam berita televisi nasional menyampaikan bahwa Idul Fitri bukan lagi menjadi permasalahan ibadah semata tapi telah menjadi permasalahan seluruh dimensi kehidupan negeri ini, dari ibadah, politik, ekonomi, sosial dan kultural. Kemudian, apakah itu yang dimaknai dengan Idul Fitri?
Suka cita menyambut hari kemenangan memanglah tidak salah, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyambut hari kemenangan tersebut. Tapi, apakah menyambut hari kemenangan harus kita nodai dengan hal-hal yang tidak menjadi sunnah?. Hiruk pikuk menyambut hari kemenangan kadang menjadikan kita lupa diri, misalnya banyak yang menyambut dengan konvoi dijalan-jalan, menyalakan petasan sembarangan, membuat macet jalanan, tawuran, mabuk-mabukan, bahkan berboncengan motor dengan orang yang belum tentu muhrimnya. Masih banyak lagi kesalahan pemikiran kita dalam menyambut hari kemenangan ini.
Kegembiraan menyambut hari kemenangan merupakan kegembiraan karena targetan-targetan ibadah kita telah terlampaui dan bukan karena puasa telah berlalu dengan kata lain kita bisa bebas makan minum dan melakukan apa pun yang kita mau. Makna hari kemenangan harusnya kita hadapi dengan kesedihan karena kita sudah ditinggalkan oleh tamu agung ‘syahrur Ramadhan’ dan mungkin saja kita tidak akan bertemu kembali di tahun depan dan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang terakhir bagi kita.
Ditinggalkan oleh bulan Ramadhan dan berjumpa dengan hari nan fitri seharusnya menjadikan kita lebih bertaqwa karena tujuan dari madrasah Ramadhan, Allah swt menginginkan kita menjadi hamba-hamba yang bertaqwa seperti yang telah dijabarkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah:183. Hal itu berarti, selepas ditinggalkan bulan Ramadhan maka akan menjadikan ibadah kita semakin meningkat dan bukan sama dengan sebelum Ramadhan atau bahkan lebih menurun. Lulus dari madrasah Ramadhan dan berjumpanya kita dengan hari kemenangan merupakan pertanda bagi kita menjadi hamba yang shaleh dan shalehah, lebih memahami hakikatunnafs, hakikat kehidupan, kita di dunia yang menjadikan kita selalu dapat memuhasabah diri-diri kita.
Marilah saatnya, kita jadikan hari kemenangan ini menjadi titik tolak kita untuk berbenah diri, menjadi hamba yang shaleh dan shalehah dan menjadikan kita lebih bertaqwa kepada Allah swt.
Wallahu a’lam
-Amru-
Jakarta, 31 Agustus 2011
Idul Fitri adalah kembali kepada ketaqwaan
Agustus 31, 2011
Komentar Terakhir